BRMP Kepri Evaluasi Hasil Pengamatan OPT, Perkuat Strategi Pengendalian pada Pertanaman Padi
Bintan– Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau melaksanakan pertemuan evaluasi dan pembahasan hasil pengamatan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada pertanaman padi. Bertempat di saung milik Bapak Supriyadi, Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengamatan lapangan sekaligus merumuskan langkah pengendalian OPT yang tepat sesuai kondisi pertanaman.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala BRMP Kepulauan Riau, Penanggung Jawab Kegiatan Produksi Benih Sumber Padi Spesifik Lokasi BRMP Kepri, Penanggung Jawab Swasembada Bintan, POPT Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Kesehatan Hewan (DKPPKH) Provinsi Kepulauan Riau, Penyuluh Pertanian Provinsi Kepulauan Riau, Katimker Penyuluh Bintan, serta Penyuluh Pertanian BPP Gunung Kijang, BPP Teluk Bintan, dan BPP Teluk Sebong. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperkuat koordinasi dalam pengamatan dan pengendalian OPT pada pertanaman padi di wilayah Kabupaten Bintan.
Kegiatan diawali dengan penyampaian hasil pengamatan OPT yang telah dilakukan di lapangan, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kondisi pertanaman dan berbagai permasalahan yang ditemukan. Hasil pengamatan menjadi bahan penting untuk mengetahui perkembangan populasi maupun intensitas serangan OPT serta menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan.
Dalam diskusi, setiap petugas BPP melaporkan hasil pengamatan rutinnya di masing-masing lahan budidaya Padi. setiap hasil pengamatan dibahas dengan mempertimbangkan jenis OPT yang ditemukan, kondisi tanaman, perkembangan populasi, serta tingkat serangan di lapangan. Pendekatan tersebut diperlukan agar tindakan pengendalian yang dilakukan tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat.
Kepala BRMP Kepulauan Riau, Rudi Hartono menekankan pentingnya pengamatan OPT secara rutin sebagai dasar dalam menentukan tindakan pengendalian. “Pengamatan OPT harus menjadi dasar dalam menentukan tindakan pengendalian. Dengan mengetahui jenis OPT, perkembangan populasinya, dan kondisi pertanaman, kita dapat menentukan langkah yang lebih tepat dan efisien. Karena itu, hasil pengamatan di lapangan perlu terus dievaluasi dan dikomunikasikan bersama,” ujar Rudi.
Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antara petugas perlindungan tanaman, penyuluh pertanian lapangan, penanggung jawab kegiatan, dan tim pendamping swasembada pangan. Informasi yang diperoleh dari lapangan dapat menjadi bahan untuk menyusun rekomendasi serta menentukan tindak lanjut pengamatan pada pertanaman padi.
Dalam pengelolaan OPT, BRMP Kepulauan Riau mendorong penerapan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan menempatkan pengamatan sebagai dasar pengambilan keputusan. Pengendalian dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, antara lain pengelolaan lingkungan pertanaman, tindakan budidaya, pemanfaatan musuh alami, serta penggunaan pestisida secara bijaksana apabila diperlukan.
Koordinasi antara POPT, penyuluh, dan petugas teknis juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pengamatan. Dengan keterlibatan penyuluh dari BPP Gunung Kijang yang memiliki wilayah binaan yang salah satunya di Toapaya, BPP Teluk Bintan, dan BPP Teluk Sebong, informasi mengenai perkembangan OPT di wilayah masing-masing dapat dihimpun dan ditindaklanjuti secara lebih cepat.
Hasil pertemuan diharapkan menjadi dasar dalam menentukan langkah pengamatan dan pengendalian OPT pada pertanaman padi di wilayah Kabupaten Bintan. Pendekatan berbasis pengamatan diharapkan dapat menekan risiko kehilangan hasil sekaligus mendukung penerapan teknologi budidaya yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Melalui evaluasi hasil pengamatan OPT secara bersama, BRMP Kepulauan Riau terus memperkuat pendampingan dan sinergi dengan berbagai pihak dalam menjaga kesehatan pertanaman padi. Kolaborasi antara BRMP, POPT, penyuluh, dan pemangku kepentingan di daerah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengamatan dan pengendalian OPT yang berkelanjutan serta mendukung peningkatan produksi padi di Kepulauan Riau.